Narasi Terpilah: Menguak Keberpihakan Media Politik
Di tengah riuhnya kontestasi politik nasional, peran media massa seringkali menjadi sorotan utama. Idealnya, media adalah pilar keempat demokrasi yang menyajikan informasi objektif dan berimbang. Namun, dalam praktiknya, keberpihakan media adalah realitas yang sulit dimungkiri, membentuk narasi dan opini publik.
Keberpihakan ini bukan tanpa sebab. Faktor kepemilikan media yang kerap terafiliasi dengan kepentingan politik atau bisnis tertentu, menjadi pemicu utama. Selain itu, preferensi ideologi redaksi atau jurnalis, tekanan dari pengiklan, hingga strategi pasar untuk menarik audiens tertentu, turut membentuk arah pemberitaan.
Manifestasi keberpihakan media dapat dilihat dalam berbagai bentuk. Mulai dari seleksi berita (apa yang diangkat dan apa yang diabaikan), pembingkaian isu (framing positif atau negatif terhadap kandidat/partai), hingga penempatan dan penekanan informasi. Penggunaan bahasa yang bias, pemilihan narasumber yang condong, serta alokasi waktu atau ruang yang tidak seimbang, juga menjadi indikator jelas.
Dampak keberpihakan ini sangat signifikan: terciptanya polarisasi di masyarakat, menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap media, dan potensi terbentuknya opini yang tidak berdasar. Oleh karena itu, sebagai konsumen informasi, penting bagi kita untuk selalu bersikap kritis, membandingkan sumber, dan memahami bahwa setiap narasi media bisa jadi memiliki "warna" tertentu. Bagi media, tantangannya adalah terus berupaya mendekati objektivitas demi kesehatan demokrasi.












